Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk melihat-lihat sebentar, lalu tiba-tiba merasa hidup orang lain bergerak jauh lebih cepat daripada hidup Anda?

Teman Anda baru membeli rumah. Seseorang yang dulu satu kelas kini bekerja di perusahaan besar. Orang lain menikah, memiliki anak, memulai bisnis, bepergian ke berbagai negara, atau tiba-tiba tampak menemukan tujuan hidupnya.

Sementara itu, Anda masih berada di tempat yang sama.

Padahal, beberapa menit sebelumnya Anda baik-baik saja.

Tidak ada yang mengatakan bahwa Anda gagal. Tidak ada yang menyuruh Anda mengejar siapa pun. Tidak ada perlombaan yang secara resmi dimulai.

Namun entah bagaimana, setelah melihat kehidupan orang lain, muncul sebuah perasaan yang sulit dijelaskan:

“Jangan-jangan saya tertinggal.”

Perasaan ini begitu umum sehingga kita sering menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan modern. Kita menyebutnya fear of missing out atau FOMO—ketakutan akan tertinggal dari pengalaman, informasi, kesempatan, atau kehidupan yang sedang dinikmati orang lain.

Tetapi jika dipikirkan lebih jauh, ada sesuatu yang menarik.

Mengapa manusia begitu takut tertinggal?

Bukankah setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda?

Mengapa pencapaian orang lain bisa membuat kita gelisah, bahkan ketika pencapaian tersebut sebenarnya tidak kita inginkan?

Jawabannya ternyata jauh lebih tua daripada internet, media sosial, dan budaya modern.

Kita memang dirancang untuk memperhatikan kelompok

Manusia adalah makhluk sosial. Hampir sepanjang sejarah spesies kita, bertahan hidup bukanlah pekerjaan individual.

Nenek moyang manusia hidup dalam kelompok. Makanan, perlindungan, pengetahuan, dan kesempatan untuk bertahan hidup sangat berkaitan dengan hubungan seseorang dengan kelompoknya.

Dalam lingkungan seperti itu, mengetahui apa yang dilakukan orang lain bukan sekadar rasa ingin tahu.

Itu bisa menjadi persoalan hidup dan mati.

Jika anggota kelompok tiba-tiba bergerak ke arah tertentu, mungkin ada bahaya.

Jika semua orang mulai mencari makanan di lokasi tertentu, mungkin ada sumber makanan.

Jika kelompok mulai menghindari seseorang, mungkin ada alasan yang perlu diketahui.

Dengan kata lain, otak manusia memiliki alasan kuat untuk memperhatikan perilaku orang lain.

Kita belajar dengan mengamati.

Kita meniru.

Kita membandingkan.

Dan kita terus bertanya, secara sadar maupun tidak sadar:

“Apakah saya masih berada di tempat yang aman di dalam kelompok ini?”

Masalahnya, lingkungan manusia telah berubah jauh lebih cepat daripada mekanisme psikologis yang membentuk kita.

Dahulu, kelompok yang menjadi referensi seseorang mungkin terdiri dari puluhan orang yang ditemuinya setiap hari.

Sekarang, kelompok pembanding kita dapat berisi ribuan, bahkan jutaan orang.

Dan kita bisa melihat kehidupan mereka kapan saja.

Di sinilah persoalan mulai muncul.

Dahulu kita membandingkan diri dengan tetangga. Sekarang dengan seluruh dunia

Bayangkan kehidupan seseorang beberapa ratus tahun lalu.

Ia mungkin mengetahui siapa yang lebih kaya di desanya, siapa yang lebih sukses berdagang, siapa yang memiliki rumah paling bagus, atau siapa yang dianggap paling berpengaruh.

Namun informasi tentang kehidupan orang-orang tersebut terbatas. Seseorang tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan seratus orang lain di tempat yang jauh.

Hari ini keadaannya berbeda.

Dalam beberapa menit, kita dapat melihat seseorang sedang bekerja di kantor mewah di Jakarta, orang lain sedang berlibur di Jepang, seseorang baru membeli mobil, orang lain sedang berolahraga, dan orang lain lagi sedang merayakan keberhasilan bisnisnya.

Semua itu muncul di layar yang sama.

Otak kita kemudian melakukan sesuatu yang sangat manusiawi:

membandingkan.

Kita tidak hanya bertanya apakah hidup kita baik.

Kita mulai bertanya apakah hidup kita lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan orang lain.

Dan di sinilah standar kehidupan dapat berubah tanpa kita sadari.

Kemarin kita merasa cukup dengan pekerjaan kita. Hari ini kita melihat seseorang seusia kita menjadi direktur. Tiba-tiba pekerjaan yang sama terasa kurang berharga.

Kemarin kita senang dengan rumah sederhana. Hari ini kita melihat rumah orang lain yang lebih besar. Tiba-tiba rumah kita terasa terlalu kecil.

Kemarin kita tidak memiliki keinginan untuk bepergian. Hari ini kita melihat foto teman dari luar negeri. Tiba-tiba kita merasa hidup kita kurang menarik.

Yang berubah bukan kehidupan kita.

Yang berubah adalah titik pembanding kita.

FOMO bukan selalu tentang menginginkan sesuatu

Ini salah satu hal yang paling menarik.

Kita sering mengira bahwa seseorang merasa tertinggal karena ia menginginkan apa yang dimiliki orang lain.

Padahal tidak selalu demikian.

Anda mungkin sebenarnya tidak ingin menjadi pengusaha. Tetapi ketika melihat teman Anda sukses menjalankan bisnis, Anda bisa tetap merasa tertinggal.

Anda mungkin tidak ingin menikah sekarang. Tetapi melihat hampir semua teman seusia Anda menikah dapat membuat Anda bertanya apakah ada sesuatu yang salah dengan diri Anda.

Anda mungkin tidak ingin memiliki mobil mahal. Tetapi ketika lingkungan Anda mulai memilikinya, mobil sederhana yang selama ini memuaskan Anda dapat tiba-tiba terasa memalukan.

Mengapa?

Karena yang dipertaruhkan bukan selalu benda atau pencapaiannya. Yang dipertaruhkan adalah posisi sosial.

Manusia tidak hanya ingin memiliki sesuatu. Kita juga ingin merasa bahwa kita masih memiliki tempat di dalam kelompok.

Inilah sebabnya seseorang dapat merasa cemas ketika melihat orang lain maju, meskipun ia sebenarnya tidak menginginkan kehidupan yang sama.

Secara tidak sadar, pertanyaannya bukan:

“Apakah saya ingin memiliki apa yang dia punya?”

Melainkan:

“Apakah saya masih dianggap berhasil dibandingkan dengan orang-orang seperti saya?”

Kita menggunakan orang lain sebagai cermin

Bayangkan Anda hidup sendirian di sebuah pulau dan tidak pernah bertemu manusia lain.

Anda memiliki rumah sederhana, makanan cukup, kesehatan baik, dan waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai.

Apakah Anda merasa gagal karena tidak memiliki mobil mewah?

Kemungkinan besar tidak.

Tanpa orang lain sebagai pembanding, banyak ukuran keberhasilan menjadi kehilangan maknanya.

Nilai sebuah pencapaian sering kali muncul karena kita hidup bersama orang lain.

Ini bukan berarti semua perbandingan buruk.

Perbandingan sosial juga memiliki fungsi yang sangat berguna.

Kita bisa belajar dari orang lain. Kita dapat mengetahui standar yang mungkin dicapai. Kita memperoleh motivasi. Kita menemukan contoh tentang apa yang mungkin dilakukan.

Seorang anak belajar bagaimana berbicara dengan mengamati orang di sekitarnya. Seorang pekerja dapat belajar keterampilan baru dengan melihat rekan yang lebih berpengalaman. Seseorang yang ingin berolahraga dapat termotivasi setelah melihat orang lain berhasil mencapai tujuan kesehatan atau kebugarannya.

Perbandingan menjadi masalah ketika cermin berubah menjadi penggaris.

Kita tidak lagi menggunakan kehidupan orang lain untuk belajar. Kita menggunakannya untuk mengukur nilai diri sendiri.

Media sosial membuat masalahnya menjadi lebih rumit

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan media sosial.

Kita tidak melihat kehidupan seseorang secara utuh.

Kita melihat versi kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan.

Seseorang mungkin mengunggah foto liburan, tetapi tidak mengunggah pertengkarannya dengan pasangan.

Ia mengunggah keberhasilan bisnis, tetapi tidak mengunggah tiga tahun kegagalan sebelumnya.

Ia mengunggah pekerjaan baru, tetapi tidak menunjukkan kecemasan yang dirasakan setiap pagi.

Ia mengunggah tubuh yang terlihat bugar, tetapi kita tidak tahu bagaimana hubungan sebenarnya dengan makanan, olahraga, atau citra dirinya.

Dengan kata lain, kita sering membandingkan kehidupan kita yang lengkap dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih.

Perbandingan seperti itu sejak awal tidak seimbang.

Kita mengetahui semua kegagalan, keraguan, kekurangan, dan masalah dalam hidup kita sendiri.

Sementara itu, kita hanya melihat bagian yang ditampilkan orang lain.

Akibatnya, dunia digital dapat menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang bergerak maju kecuali kita.

Padahal kita sedang membandingkan realitas dengan representasi.

Algoritma juga memiliki peran

Ada persoalan lain yang membuat situasi semakin kuat.

Platform digital tidak sekadar menunjukkan apa yang dilakukan orang-orang di sekitar kita.

Algoritma dirancang untuk menemukan konten yang membuat kita terus memperhatikan layar.

Konten yang memicu emosi kuat cenderung lebih menarik perhatian.

Keberhasilan, kemewahan, kontroversi, kecantikan, kejutan, dan pencapaian ekstrem jauh lebih mudah menarik perhatian daripada kehidupan biasa yang tenang.

Akibatnya, dunia yang kita lihat melalui layar tidak selalu merupakan gambaran rata-rata kehidupan manusia.

Ia adalah kumpulan momen yang berhasil mendapatkan perhatian.

Kita bisa membayangkan seseorang duduk di rumah pada malam hari.

Dalam satu jam, ia melihat:

  • seseorang membeli rumah,
  • seseorang menikah,
  • seseorang menghasilkan uang,
  • seseorang pergi berlibur,
  • seseorang menjadi terkenal,
  • seseorang mendapatkan pekerjaan impian.

Secara statistik, tentu tidak mungkin kehidupan semua orang berjalan semulus itu.

Tetapi layar kita menyusun semua keberhasilan tersebut dalam satu aliran informasi.

Otak kita kemudian dapat memperoleh kesan:

“Semua orang sedang maju.”

Padahal sebenarnya kita sedang melihat kumpulan momen terbaik dari banyak orang.

Mengapa kita merasa tertinggal padahal tidak ada perlombaan?

Karena manusia memiliki kecenderungan untuk mencari posisi.

Dalam kelompok, posisi memiliki konsekuensi.

Siapa yang dipercaya?

Siapa yang memiliki pengaruh?

Siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya?

Siapa yang dianggap kompeten?

Siapa yang dihormati?

Dalam masyarakat modern, bentuknya memang berubah, tetapi kebutuhan untuk memahami posisi sosial tidak sepenuhnya hilang.

Pangkat pekerjaan, jumlah penghasilan, jumlah pengikut, status hubungan, pendidikan, kepemilikan rumah, kendaraan, bahkan destinasi liburan dapat menjadi simbol yang kita gunakan untuk membaca posisi seseorang.

Tidak semuanya buruk.

Masalah muncul ketika ukuran tersebut menjadi terlalu banyak dan terlalu mudah dilihat.

Dahulu, seseorang mungkin hanya mengetahui beberapa hal tentang keberhasilan orang lain.

Sekarang, kita dapat mengetahui hampir semuanya.

Berapa banyak orang yang mengikuti seseorang. Di mana ia berlibur. Apa yang dibelinya. Di mana ia bekerja. Kapan ia menikah. Apa yang ia makan. Bahkan terkadang apa yang ia pikirkan.

Informasi yang berlebihan membuat kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk membandingkan diri.

Dan semakin sering kita membandingkan diri, semakin mudah kita menemukan alasan untuk merasa kurang.

Ada paradoks dalam ketakutan tertinggal

Semakin banyak pilihan yang kita miliki, semakin besar pula kemungkinan kita merasa kehilangan.

Bayangkan sebuah restoran hanya memiliki tiga menu.

Pilihan Anda sederhana.

Tetapi jika restoran memiliki seratus menu, Anda mungkin menghabiskan lebih banyak waktu memilih.

Setelah memilih, Anda bahkan dapat bertanya-tanya apakah menu lain sebenarnya lebih baik.

Hal serupa terjadi dalam kehidupan.

Internet memperlihatkan begitu banyak kemungkinan hidup.

Anda dapat menjadi pengusaha. Anda dapat bekerja dari mana saja. Anda dapat menjadi kreator. Anda dapat pindah negara. Anda dapat belajar bahasa baru. Anda dapat mengubah karier. Anda dapat membangun bisnis.

Anda dapat menikah muda. Anda dapat memilih untuk tidak menikah. Anda dapat hidup minimalis. Anda dapat mengejar kekayaan. Anda dapat menjadi akademisi. Anda dapat menjadi seniman.

Kemungkinan tersebut memang membebaskan.

Tetapi kebebasan juga membawa beban:

“Jika begitu banyak kehidupan yang mungkin dijalani, bagaimana kita tahu bahwa kita memilih yang benar?”

Di sinilah rasa takut tertinggal dapat berubah menjadi rasa takut salah memilih.

Kita tidak hanya takut tertinggal. Kita takut memilih jalan yang salah

Ini mungkin bentuk FOMO yang lebih dalam.

Ketika melihat seseorang berhasil, kita tidak hanya berpikir:

“Dia sudah lebih maju.”

Kita mungkin juga berpikir:

“Bagaimana kalau seharusnya saya memilih jalan seperti dia?”

Pertanyaan ini dapat muncul dalam karier, hubungan, pendidikan, bisnis, dan hampir semua aspek kehidupan.

Seseorang yang sudah bekerja bertahun-tahun dapat melihat temannya pindah bidang dan berhasil.

Kemudian muncul keraguan:

“Apakah selama ini saya salah?”

Padahal keberhasilan orang lain tidak otomatis membuktikan bahwa pilihan kita salah.

Dua orang dapat memilih jalan berbeda dan tetap menjalani kehidupan yang baik.

Masalahnya, media sosial membuat hasil akhir seseorang terlihat jauh lebih jelas daripada prosesnya.

Kita melihat orang mencapai tujuan.

Kita jarang melihat semua pilihan yang mereka korbankan untuk sampai ke sana.

Tidak semua orang harus tiba di tempat yang sama pada usia yang sama

Salah satu sumber kecemasan terbesar dalam kehidupan modern adalah gagasan tentang timeline.

Pada usia tertentu kita seolah-olah harus sudah melakukan sesuatu.

Harus lulus. Harus mendapatkan pekerjaan. Harus memiliki pasangan. Harus menikah. Harus membeli rumah. Harus memiliki tabungan. Harus memiliki karier. Harus mencapai sesuatu.

Timeline ini sebagian berasal dari budaya, keluarga, lingkungan sosial, dan ekspektasi masyarakat.

Tetapi kehidupan manusia tidak bekerja seperti jadwal kereta.

Ada orang yang menemukan kariernya pada usia dua puluhan. Ada yang baru menemukan bidang yang cocok pada usia empat puluhan.

Ada yang menikah muda. Ada yang menikah jauh lebih lambat.

Ada yang membangun bisnis ketika masih muda. Ada yang baru memulainya setelah bertahun-tahun bekerja.

Ada yang menemukan kesuksesan dengan cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Perbedaan tersebut bukan selalu tanda bahwa seseorang lebih cepat atau lebih lambat.

Sering kali mereka hanya berada di jalur yang berbeda.

Lalu bagaimana kita seharusnya menghadapi rasa takut tertinggal?

Jawabannya bukan dengan berhenti peduli terhadap orang lain.

Kita tetap membutuhkan orang lain sebagai sumber informasi dan inspirasi.

Yang perlu diubah adalah cara kita menggunakan perbandingan.

Alih-alih bertanya:

“Mengapa saya belum seperti dia?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan dia?”

Pertanyaan pertama menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Pertanyaan kedua menjadikannya sumber pengetahuan.

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Anda tidak lagi mengukur harga diri.

Anda sedang belajar.

Bedakan antara iri dan informasi

Rasa iri sering dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Padahal iri dapat menjadi informasi.

Ketika melihat keberhasilan seseorang dan merasa tidak nyaman, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Tanyakan:

“Bagian mana dari kehidupannya yang sebenarnya saya inginkan?”

Mungkin bukan uangnya.

Mungkin kebebasan waktunya.

Mungkin keberaniannya.

Mungkin kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan yang ia sukai.

Mungkin kemampuan untuk memilih hidupnya sendiri.

Dengan cara ini, rasa iri dapat berubah menjadi petunjuk.

Bukan:

“Saya ingin menjadi dia.”

Tetapi:

“Ada sesuatu dalam hidup saya yang sedang meminta perhatian.”

Itu jauh lebih berguna.

Kita juga perlu belajar bahwa tidak semua kesempatan harus diambil

Budaya modern sering memberi pesan bahwa setiap kesempatan harus dimanfaatkan.

Jangan sampai ketinggalan. Jangan lewatkan peluang. Jangan berhenti belajar. Jangan berhenti berkembang.

Secara sekilas, semuanya terdengar positif.

Tetapi jika diterapkan tanpa batas, kita dapat berakhir mengejar terlalu banyak hal sekaligus.

Setiap “ya” berarti ada sesuatu yang lain yang kita korbankan.

Memilih satu karier berarti tidak menjalani karier lain. Menghabiskan waktu membangun bisnis berarti mengurangi waktu untuk hal lain.

Memilih hidup di satu kota berarti kehilangan pengalaman hidup di kota lain.

Bahkan memilih untuk beristirahat berarti kita sedang memilih untuk tidak melakukan sesuatu.

Kehidupan yang baik bukan kehidupan yang berhasil mengikuti semua tren.

Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tahu apa yang layak dikejar dan apa yang boleh dilewatkan.

Mungkin kita tidak perlu mengejar kelompok

Pada akhirnya, ketakutan tertinggal berasal dari sesuatu yang sangat manusiawi.

Kita ingin diterima. Kita ingin aman. Kita ingin merasa cukup. Kita ingin tahu bahwa keputusan yang kita ambil tidak membuat kita tersingkir dari kelompok.

Tetapi dunia modern memberi kita jumlah pembanding yang tidak pernah dimiliki manusia sebelumnya.

Setiap hari kita dapat melihat ribuan orang yang tampaknya lebih sukses, lebih kaya, lebih cantik, lebih bahagia, lebih produktif, atau lebih maju.

Jika kita menjadikan semua orang sebagai standar, kita tidak akan pernah selesai.

Akan selalu ada seseorang yang lebih cepat.

Akan selalu ada seseorang yang lebih kaya.

Akan selalu ada seseorang yang lebih terkenal.

Akan selalu ada seseorang yang lebih muda tetapi sudah mencapai sesuatu yang belum kita capai.

Jika hidup diperlakukan sebagai perlombaan, garis finisnya akan terus bergerak.

Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan:

“Apakah saya tertinggal?”

Melainkan:

“Saya sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Pertanyaan pertama membutuhkan orang lain sebagai pembanding. Pertanyaan kedua membutuhkan kita untuk mengenal diri sendiri.

Dan mungkin di situlah kebebasan sebenarnya dimulai.

Kita tidak harus berhenti melihat dunia. Kita hanya perlu berhenti menganggap setiap kehidupan yang kita lihat sebagai perlombaan yang harus kita menangkan.

Karena bisa jadi, orang yang kita kira sedang jauh di depan sebenarnya sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah kita inginkan.

Dan bisa jadi, selama ini kita merasa tertinggal bukan karena berjalan terlalu lambat.

Kita hanya terlalu sering melihat ke jalur orang lain.